![]() |
| Techno Okezone |
Adanya sekolah kejuruan, diharapkan dapat mencetak SDM yang terampil dan siap kerja. Namun sayangnya jumlah politeknik di Indonesia ini masih tertinggal jauh dibanding negara lain.
“Indonesia punya sebanyak 4.529 perguruan tinggi, tetapi cuma 6 persen politekniknya. Sedangkan, di China porsi mahasiswa vokasinya sudah 59 persen, kemudian India (36 persen), Swiss (67 persen), Jerman (48 persen), Austria (76 persen), Belgia (55 persen), dan Belanda (68 persen),” ucap Mujiyono Tenaga Ahli Kementerian Perindustrian Bidang Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri melalui keterangan seperti yang dilansir Akurat.co, Jakarta, Minggu (12/5/2019).
Anehnya, menurutnya di Indonesia, generasi mudanya lebih bangga ketika masuk sekolah akademik. Padahal di Eropa generasi mudanya merasa bangga masuk sekolah vokasi dibanding akademik.
Berarti, jika Indonesia ingin mengejar ketertinggalan dengan negara China, maka dibutuhkan lebih dari 2.250 politeknik yang dibutuhkan waktu sekitar 200 tahun agar bisa terwujud.
Sementara itu, kata Mujiyono, menurut laporan Bank Dunia, Indonesia butuh waktu 45 tahun untuk mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan dalam hal membaca dan membutuhkan sampai dengan 75 tahun untuk ilmu pengetahuan yang kompeten.
Tak ingin ketinggalam jauh, Kemenperin kemudian menjalankan 6 langkah yang dinilai strategis, yaitu
1. Mengembangkan pendidikan vokasi yang kemudian menuju dual system yang diadopsi dari Jerman. Bahkan konsep ini diwajibkan di seluruh unit pendidikan vokasi binaan Kemenperin, yang terdiri dari 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 10 Politeknik, dan 2 Akademi Komunitas.
2. Membangun politeknik atau akademi komunitas di kawasan Industri guna memudahkan perusahaan pencari tenaga kerja sesuai dengan kebutuhannya.
3. Membangun link and match antara SMK dengan Industri.
4. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja) yang kemudian diikuti oleh para penyandang disabilitas. Jumlah peserta yang mengikuti 72 ribu orang dan tahun 2019 mencapai 100 ribu orang.
5. Memberikan sertifikat kompetensi tenaga kerja industri.
Dan ke-6 "Semua sekolah vokasi kami sudah dipayungi dengan SKKNI. Keenam, dalam pengembangan SDM menuju industri 4.0. Kemenperin sedang membangun Pusat Inovasi dan Pengembangan SDM Industri 4.0 di Jakarta,” pungkasnya.
Sumber: akurat.co

Komentar
Posting Komentar